Logo Permata Halsel Permata Halsel Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Halmahera Selatan
Tambang Batu Bacan Desa Palamea

Tambang Batu Bacan Desa Palamea

Palamea, Kec. Kasiruta Barat

Tambang Batu Bacan Desa Palamea adalah lokasi penambangan batu mulia krisokola-kuarsa (Batu Bacan Palamea) di Desa Palamea, Kecamatan Kasiruta Barat, Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara, yang menawarkan pengalaman eduwisata pertambangan batu mulia dengan melihat langsung proses pencarian, penggalian, dan pengolahan salah satu batu akik paling legendaris di Indonesia. Terletak di wilayah Desa Palamea, Kecamatan Kasiruta Barat, Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara, Palamea merupakan salah satu dari empat desa penghasil Batu Bacan di Pulau Kasiruta (bersama Doko, Bisori, dan Imbu-imbu). Lokasi tambang berada di Tanjung Gulao, Palamea, dengan aktivitas penambangan yang dikelola oleh kelompok penambang lokal yang telah bekerja bertahun-tahun di area ini. Batu Bacan Palamea berasal dari Desa Palamea, Pulau Kasiruta, dan bersama Bacan Doko menjadi varian paling favorit di kalangan kolektor batu akik Indonesia. Pada 2014, warga Palamea menemukan batu Bacan raksasa seberat 1,5 ton yang sempat ditaruh di Mushola Palamea sebelum akhirnya dipindahkan ke halaman Keraton Kesultanan Bacan di Labuha. Pertambangan Batu Bacan di Palamea memberikan dampak positif bagi ekonomi masyarakat lokal, banyak warga yang bekerja sebagai penambang untuk meningkatkan pendapatan keluarga. Bacan Palamea dikenal memiliki warna hijau bening yang khas, dengan kemampuan metamorfosis (berubah warna dari cokelat/hijau tua menjadi lebih bening seiring waktu), sehingga disebut sebagai "batu hidup". Batu ini secara gemologi merupakan krisokola-kuarsa (quartz chrysocolla) yang ditemukan di bagian barat Pulau Kasiruta, dengan kekerasan dan kejernihan yang menjadikannya primadona di kalangan kolektor. Eduwisata pertambangan menjadikan pengunjung dapat melihat langsung proses penambangan tradisional, mulai dari penggalian lubang, pencarian bongkahan batu, hingga pemilahan kualitas batu. Interaksi dengan penambang menjadikan pengunjung berkesempatan berbincang dengan penambang lokal yang telah bekerja bertahun-tahun di tambang, memahami tantangan dan harapan mereka. Pembelian langsung membuat pengunjung dapat membeli batu Bacan mentah atau yang sudah diolah (cincin, liontin) langsung dari sumbernya, dengan harga bervariasi tergantung kualitas (kualitas standar Rp300.000–Rp800.000, kualitas tinggi bisa mencapai jutaan rupiah).