Logo Permata Halsel Permata Halsel Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Halmahera Selatan
Populasi Kepiting Kenari

Populasi Kepiting Kenari

Sesepe, Kec. Obi Timur

Wisata Populasi Kepiting Kenari di Desa Sesepe merupakan potensi ekowisata satwa liar yang berfokus pada pengamatan kepiting kenari atau kepiting kelapa (Birgus latro) di habitat alaminya. Konsep wisata ini menonjolkan pengalaman melihat salah satu artropoda darat terbesar di dunia, sekaligus mengajak pengunjung memahami pentingnya menjaga pulau-pulau kecil, vegetasi pantai, dan ekosistem pesisir. Kepiting kenari diketahui tersebar di sejumlah wilayah Maluku Utara. Kepiting kenari (Birgus latro) adalah jenis umang-umang darat berukuran besar. Hewan ini dikenal hidup di kawasan pulau kecil, pesisir berhutan, dan area dengan sumber makanan seperti kelapa. Aktivitas kepiting kenari umumnya lebih mudah diamati pada sore hingga malam hari. Kegiatan wisata sebaiknya berupa observasi bersama pemandu lokal, bukan perburuan atau penangkapan. Wisatawan dapat belajar tentang peran satwa ini dalam ekosistem, siklus hidupnya, serta ancaman penurunan populasi akibat penangkapan berlebihan dan kerusakan habitat. Pengambilan gambar dapat dilakukan tanpa lampu sorot yang kuat, kilat kamera, atau tindakan yang mengubah perilaku alami satwa. Kepiting kenari merupakan satwa yang dilindungi, meskipun terdapat pengaturan pemanfaatan terbatas melalui kuota dan ketentuan tertentu. Penangkapan ilegal serta kurangnya populasi menjadi ancaman penting bagi kelestariannya di Maluku Utara. Karena itu, wisata di Desa Sesepe perlu menerapkan aturan yaitu tidak menangkap, memegang, memberi makan, memindahkan, atau membeli kepiting kenari dari alam. Kemudian mengamati dari jarak aman dan dalam kelompok kecil bersama pemandu. Selanjutnya tidak menggunakan lampu sorot terang, drone rendah, musik keras, atau kilat kamera. Berikutnya tidak merusak lubang persembunyian, akar pohon, semak pantai, dan vegetasi yang menjadi habitat. Setelah itu tidak meninggalkan sampah atau sisa makanan yang dapat mengganggu kondisi habitat.